I.
Pendahuluan
Sebagai makluk sosial,
manusia membutuhkan sandang, pangan, dan papan, namun untuk berinteraksi di antara
satu sama lainnya manusia perlu berkomunikasi. Komunikasi bisa
dilakukan secara langsung (verbal) dan tidak langsung (non verbal). Untuk
komunikasi tidak langsung, maka diperlukan alat-alat bantu. Mulailah manusia
mencari alat atau sistem untuk saling berinteraksi, misal dengan gambar, lukisan,
isyarat tangan, isyarat bunyi, kemudian ditemukan kode huruf, kata, kalimat, dan
tulisan. Perkembangan alat komunikasi terus berlanjut sampai ditemukan telepon
dan internet yang kita kenal saat ini. Alat atau sistem komunikasi kemudian
dikenal dengan sebutan Teknologi
Informasi atau lebih dikenal dengan
istilah IT.
Di
era globalisasi ini memungkinkan banyaknya akses untuk mencari informasi dari
segala penjuru dunia. Salah satunya adalah melalui perpustakaan. Dengan adanya
perpustakaan kita dapat mencari, mengolah ataupun menyimpan data, yang kini
telah berkembang dalam bentuk digital, atau yang dikenal dengan perpustakaan digital.
Teknologi
informasi atau Information and Communication
Technology (ICT) telah membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk perpustakaan.
Perubahan penting dan mendasar bagi pengelolaan perpustakaan, baik dalam
memberikan layanan maupun dalam menjalin hubungan antar lembaga, unit atau
institusi.
Terjadinya perubahan pola pikir tentang perpustakaan,
yaitu penyediaan koleksi yang dimiliki ke arah konsep “tidak harus memiliki” akan tetapi dapat “memberikan informasi”, telah menjadikan jalinan kerjasama antar
perpustakaan dalam menampilkan koleksi yang dapat memudahkan penyampaian
informasi, semakin mudah untuk diwujudkan, apalagi dengan adanya ICT. Maka konsep
gedung yang besar dan mewah serta banyaknya koleksi bukan merupakan sesuatu
yang ideal lagi.
Oleh karena itu pengembangan
perpustakaan yang berbasis ICT atau teknologi
informasi dan komunikasi bagi tenaga pengelola perpustakaan, dapat membantu
pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga
proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien.
Dalam makalah ini
akan dibahas mengenai pemanfaatan sistem teknologi informasi dan komunikasi
yang berbasis ICT, yang berfungsi mengontrol sistem administrasi layanan secara
terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna perpustakaan, dapat membantu mencari
sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan katalog on-line yang dapat diakses
melalui intranet maupun internet.
II. Pengertian Information Communications Technologies (ICT).
·
Informasi
Menurut Budi Sutedjo (2002:168) dan Rahayuningsih,
Rochaety, Yanti, (2006:4). Informasi
merupakan pemrosesan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem menjadi
bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan dan
dibutuhkan, dimana Informasi itu sendiri
merupakan pernyataan yang menjelaskan suatu peristiwa sehingga manusia dapat membedakan antara satu
dengan yang lainnya
- Teknologi Informasi
Menurut
(Main, 2008) TI
dapat diartikan sebagai teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan,
mengolah serta menyebarkan informasi. Teknologi Informasi atau IT (Information
Technology) merupakan mata rantai dari perkembangan SI (Sistem Informasi). Kalau dilihat dari susunan kata, yakni kata
teknologi dan informasi, maka teknologi informasi dapat diartikan sebagai hasil
rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari pengirim ke
penerima.
·
Information Communications Technologies
(ICT)
Definisi secara
umum menurut Fitrihana (2007), ICT adalah sistem
atau teknologi yang dapat mereduksi batasan ruang dan waktu untuk mengambil,
memindahkan, menganalisis, menyajikan, menyimpan dan menyampaikan informasi data menjadi sebuah
informasi
Di The Dictionary of Computers, Information Processing and
Telecommunications (Hariyadi, 1993: 253, dalam Ardroni), teknologi informasi diberi batasan sebagai
teknologi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan penyebaran berbagai jenis
informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir karena
“... adanya dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan teknologi baru yang dapat
mengatasi kelambatan manusia mengolah informasi..."
·
Manfaat ICT di Dunia Perpustakaan
Hampir sebagian kehidupan
kita dikelilingi oleh teknologi informasi baik yang sederhana maupun yang
canggih. Saat kita ingin menyampaikan pesan yang sangat penting ke tempat yang jauh,
tak terbayangkan bila informasi tersebut harus kita sampaikan dengan daun
lontar atau dikirim melalui burung merpati pos. Penggunaan telepon sangat
memudahkan kita untuk menyampaikan informasi sepenting apapun dalam waktu yang
singkat apalagi dengan perkembangan telepon genggam dengan fitur dan kelengkapan fungsi yang
semakin beragam.
Perpustakaan dengan berbagai ciri khas
dan kemampuannya dalam mengelola informasi, mempunyai alasan tersendiri mengapa perpustakaan perlu
menggunakan ICT sebagai alat bantu, di antaranya:
1. Sistematika informasi : terjadinya ledakan
informasi yang membanjiri dunia saat ini membutuhkan pengelolaan yang lebih
sistematis. Hampir semua Perguruan Tinggi di Indonesia menggunakan ICT dalam
pengelolaan data base perpustakaan, diantaranya perpustakaan:
2.
Tingginya akses informasi: kebutuhan pengguna untuk mencari
dan menemukan kembali informasi lebih mudah jika difasilitasi dengan sarana ICT
. Katalog online memungkinkan pustakawan dan pengguna untuk mendapatkan
informasi dari berbagai sumber. Sudah menjadi hal yang lumrah untuk menyusun pengajuan
daftar pustaka baru dengan mengunjungi dan menggunakan data-data di toko buku
amazon http://www.amazon.com dan Springer http://www.springer.com
3.
Efisiensi pekerjaan: komputer di perpustakaan membantu
pekerjaan menjadi lebih cepat. Pencatatan buku-buku baru serta pengolahan akan
lebih mudah jika disimpan dalam file komputer. Pengkatalogan tidak hanya dengan
sistem AACR (Anglo American Cataloguing Rules), begitupun penentuan subjek nya
dengan DDC (Dewey Decimal Clasifications). Tetapi secara praktis penggunanaan
katalog online ke http://www.bl.uk memudahkan proses pengkatalogan.
4.
Memudahkan tukar-menukar informasi dalam bentuk data. Katalog
induk yang dipublikasikan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Jawa Barat sudah
on-line di http://cobian.lib.itb.ac.id/fpptjabar/ atau di http://www.fppti.or.id
5.
Komunikasi dua arah atau searah, sudah hal yang lazim digunakan dengan
tersedianya fasilitas yahoo messenger atau dengan fasilitas e-mail. Mailing list pustakawan http://groups.yahoo.com/group/fppti-jabar
dan http://groups.yahoo.com/group/fppti
adalah sebuah grup diskusi yang
mempunyai kesukaan/kepentingan yang sama, setiap orang bisa berpartisipasi,
kita dapat membaca email orang lain dan kemudian mengirimkan balasannya. Mailing
list alumni IA-ITB http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB sebagai
sarana yang ampuh untuk mendapatkan sumbangan buku, perbaikan fasilitas
perpustakaan (lift, kamar mandi- WC dll)
6.
Menjadi trend bila pustakawan saat ini menyimpan data
pada pada web dari e-mail pribadi. http://www.lib.itb.ac.id.id/~mahmudin.
Makalah pelatihan ini bisa didownload di http://www.lib.itb.ac.id/~mahmudin/ict
7.
Keseragaman : salinan data atau informasi yang dibuat
dapat diseragamkan sehingga memudahkan pengguna (user friendly). Konsep MARC (Machinery Readable Catalogue) yang populer tahun 90an masih digunakan dalam
rangka penyeragamkan penentuan tag (ruas) data bibliografi pustaka.
82a 621.381 045
82b Sur
100a Suryanto
100b Swastioko Budhi
245 Perangkat pemilih besi siku dengan sensor
optik dan komputer pribadi
IBM sebagai pengolah data.
260 Bandung: Jurusan Teknik Fisika ITB,
1987.
300 xi,
120 lemb.; gamb., 30 cm.
505
Tugas Akhir (Sarjana Teknik
Fisika)-ITB
710a INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG. Jurusan Teknik
Fisika
999 89/2257
8.
Penyajian informasi dan data yang menarik, sekaligus
sebagai promosi perpustakaan. Tampilan informasi perpustakaan pusat ITB http://www.lib.itb.ac.id dan Ikatan
Pustakawan Indonesia Cabang Bandung http://www.ipi.or.id
merupakan upaya dalam rangka promosi perpustakaan dan
pustakwan dengan penampilan data yang
bervariasi.
9.
Pengguna dapat belajar dan mencari sendiri informasi yang
dibutuhkan dengan bantuan sarana ICT, khususnya komputer. Search engine http://www.google.co.id, sangat populer
disemua kalangan pencari informasi. Begitupun kita bisa gunakan mesin pencari
lainnya di yahoo http://www.yahoo.com/ lycos http://www.lycos.com/ dan excite http://www.excite.com/
·
Dampak
Penggunaan ICT di Perpustakaan
Kehadiran ICT di perpustakaan,
selain menguntungkan juga berdampak sampingan di antaranya:
§ Dapat
menimbulkan pengangguran:
penggunaan komputer bertujuan memperingan dan mempercepat pekerjaan, sehingga
terjadi efisiensi pekerjaan karena beban
kerja yang berkurang.
§
Hak
pribadi : kemungkinan adanya penyalahgunaan data untuk
kepentingan pribadi. Adanya peluang untuk memindahkan data yang tadinya milik
pribadi atau rahasia, dapat diakses oleh orang lain. Data di http://ftpsearch.itb.ac.id dengan
mudahnya dapat diakses dan didownload untuk kepentingan kantor atau pribadi.
§
Hak cipta
: perlindungan hak cipta seseorang sulit diwujudkan. Sebuah karya atau
kumpulan data dapat dengan mudah dikopi dan dimiliki oleh orang lain tanpa seizin
pemiliknya. Terlebih jika bertujuan untuk mencari keuntungan pribadi. Ceramah-ceramah
ramadan dengan mudahnya kita dapatkan di situs
http://www.pesantrenvirtual.com.
Publikasi artikel e-print in Library and information system bidang perpustakaan
dapat diakses di http://eprints.rclis.org/view/countries/ID-.html
§
Data
tidak dapat diakses: ketergantungan pada komputer menimbulkan kelemahan bila
listrik mati atau komputer terserang virus, maka data tidak dapat diakses.
Fenomena
pemadaman listrik akhir-akhir ini, bukan sekedar menghambat akses data, tetapi
juga menimbulkan ”pengangguran” selama
listrik mati. Serangan virus ”brontok” dan turunanya menjadikan data
dan folder sulit di akses kembali.
§
Menghambat
pekerjaan : ketidakmampuan dan ketidakmauan pustakawan dalam
menguasai teknologi dapat menimbulkan kendala dan memunculkan anggapan bahwa
teknologi justru menghambat pekerjaan.
III. Implementasi Pemanfaatan ICT di Perpustakaan.
Implementasi ICT
di perpustakaan perlu direncanakan secara matang karena memerlukan pendanaan
yang tidak murah, apalagi perkembangan
teknologi khususnya komputer terus berubah dengan sangat cepat. Hal ini
untuk mengantisipasi kinerja aplikasi ICT dapat dioptimalkan. Kesia-siaan dapat
terjadi karena perencanaan yang kurang baik yang dapat mengakibatkan pemborosan.
Beberapa hal yang
perlu menjadi pertimbangan dalam rangka penerapan ICT pada perpustakaan,
menurut surachman (2008), yakni:
·
Adanya dukungan dari semua pihak terutama pimpinan.
· Aplikasi ICT tidak hanya instalasi sistem,
tetapi mengisi data dan
menjalankan sistem, maka perlu adanya
kesinambungan pekerjaan yang
dilakukan pustakawan.
·
Perawatan
(maintenance) harus menjadi bagian dari aplikasi ICT.
·
Penyiapan
sumber daya pustakawan dalam berbagai unit kerja di perpustakaan, terutama
pembekalan keterampilan IT untuk pustakawan.
·
Infrastruktur pendukung seperti listrik, ruang/gedung, furniture,
desain interior.
·
Ketersediaan
Jaringan komputer.
·
Profil
pengguna perpustakaan perguruan tinggi relatif seragam, sehingga sosialisasi
aplikasi ICT lebih mudah.
Adapun penerapan teknologi informasi di
perpustakaan dapat difungsikan dalam bentuk:
1. Automasi Perpustakaan: Konsep Sistem Informasi Manajemen (SIM) perpustakaan,
yang menekankan aplikasi ICT antar sub sistem informasi perpustakaan pengadaan,
inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi, pengelolaan anggota, dan statistik dalam bentuk terintegrasi. Model otomasi
perpustakaan di http://otomasi.lib.itb.ac.id
merupakan model dengan studi kelayakan yang cukup panjang.
2. Perpustakaan Digital : Penerapan teknologi informasi sebagai sarana
untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi, ilmu pengetahuan
dan teknologi lokal secara full text dalam format digital seperti
tugas akhir (skripsi, tesis, disertasi), laporan penelitian, artikel majalah
ilmiah, dapat dilihat di http://digilib.itb.ac.id
3. Publikasi
e-books : Publikasi
buku elektronik untuk kepentingan lokal (internal), dimaksudkan untuk
kemudahan dalam pencarian dan mendapatkan kembali secara utuh sesuai dengan
format aslinya. Koleksi berupa buku lokal atau buku terbitan asing dapat dilihat di http://e.lib.itb.ac.id.
Buku
Sekolah Elektronik (BSE) terbitan DIKNAS, dapat didownload pada alamat http://www.diknas.info/category/bse-sd. Bentuk
koleksi *.pdf dipublikasikan secara bebas dalam rangka mendukung buku murah. Buku-buku
tersebut telah dibeli hak ciptanya oleh DIKNAS..
Ketiga
fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun terintegrasi sebagai
suatu sistem informasi, tergantung dari kemampuan software yang digunakan,
sumber daya manusia, dan infrastruktur peralatan teknologi informasi yang
mendukung ketiganya.
Hal-hal tersebut
di atas akan menentukan sejauh mana penerapan ICT di perpustakaan dapat berjalan
dengan baik, khususnya pada unit layanan perpustakaan.
IV. ICT dan pelayanan perpustakaan
·
Peranan Katalog
Katalog manual atau
elektronik merupakan jantung sebuah sistem perpustakaan. Katalog memuat
keterangan singkat atau wakil dari suatu dokumen. Sistem katalog yang dirancang
dengan baik merupakan kunci keberhasilan
penerapan automasi perpustakaan.
Hasil
katalog terkomputerisasi dapat diakses melalui Online Public Access
Catalogue (OPAC) atau dalam bentuk Katalog Induk (Unions Catalogue), sebagai contoh adalah http://isisonline.lib.itb.ac.id.
Pangkalan data katalog terpasang berangsur-angsur akan menggantikan katalog
kartu, microfiche atau daftar buku.
·
Sirkulasi
Penerapan ICT dalam bidang layanan sirkulasi dapat
meliputi banyak hal di antaranya adalah layanan peminjaman dan pengembalian,
statistik pengguna, administrasi keanggotaan, dll.
Teknologi saat ini sudah memungkinkan adanya self-services
dalam layanan sirkulasi melalui fasilitas barcoding dan RFID (Radio
Frequency Identification). RFID merupakan proses pengidentifikasian otomastis dengan sistem frekwensi radio.
Tiap-tiap buku yang akan diidentifikasi ditempeli label RFID yang bisa dibaca
RFID reader. Keunggulan RFID
dibandingakn dengan dibandingkan dengan
teknologi barcode dan adanya tag anti
pencurian. Keunggulan lainnya
meningkatnya kualitas pelayanan serta penghematan biaya operasional
tenaga perpustakaan. Ada
dua komponen penting dalam sistem RFID yaitu kartu (Tag) dan pembaca (antena
RFID) dan proses pembacaannya pun tidak
perlu dilakukan secara kontak langsung dengan obyek yang dibaca. Reader
menghasilkan frekuensi radio magnetik yang dipancarkan oleh antena pada area
tertentu dimana kartu tag ada. Implementasi
RFID bidang perpustakaan, masih
tergolong baru. Oleh karena itu,
implementasi RFID nya memberikan nilai ekslusivitas.
·
Jurnal / Majalah / Berkala
Pengguna layanan jurnal, majalah, dan
berkala akan sangat terbantu apabila perpustakaan mampu menyediakan kemudahan
dalam mengakses jurnal-jurnal
elektronik, baik itu yang diakses dari database lokal, global maupun yang
tersedia dalam format Compact Disk.
Pembuatan kliping elektronik (E-Klip
ITB) berbasis CD ROM, merupakan upaya pengumpulan dan pengelolaan artikel-artikel
dari majalah dan surat kabar cybermedia. Bahkan silang layan dan layanan
penelusuran informasipun bisa dimanfaatkan oleh pengguna dengan bantuan
teknologi informasi seperti internet.
Ketersediaan
jurnal elektronik, salah satunya adalah proquest
http://proquest.umi.com/login
(purwono,2008) yang menyediakan artikel full
text lebih dari 4000 jurnal, suratkabar dan majalah. Cakupan isi terbitan yang
tersedia meliputi 10 s.d 20 tahun ke belakang, dan hasil penelusurannya dalam
bentuk full text , html, pdf.
Proquest dapat diakses baik melalui intranet http://www.proquest.com/pqdauto tanpa menggunakan password, maupun melalui internet
http://www.proquest.com/pqdweb dengan menggunakan password yang berganti setiap bulan.
·
Peran Internet
Orang sudah tidak
asing lagi untuk menggunakan internet dalam kehidupannya. Untuk itu perpustakaanpun
harus dapat memberikan layanan melalui media ini. Melalui media web,
perpustakaan memberikan informasi dan layanan kepada penggunanya. Selain itu,
perpustakaan juga dapat menyediakan akses internet baik menggunakan computer
station pribadi maupun Access
Poin Cyberlib yang tersedia di perpustakaan pusat ITB dapat digunakan pengguna sebagai bagian dari
layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Perpustakaan juga bisa menggunakan
fasiltas web-conferencing untuk memberikan layanan secara interaktif
kepada pengguna perpustakaan. Web-Conferencing ini dapat juga
dimanfaatkan oleh dosen dalam rangka kuliah jarak jauh. Awal tahun 2008,
perpustakaan ITB mendapat hibah peralatan Tele
Conference dari keduataan Amerika. OPAC atau Online Catalog
merupakan bagian penting dalam sebuah perpustakaan. Registrasi online
di http://or.itb.ac.id sudah
mejadi bagian layanan di perpustakaan.
·
Keperluan Pengguna
Pustakawan harus dapat melayani keperluan
pengguna seperti permintaan dengan akses yang lebih cepat ke informasi yang
diperlukan dari dalam maupun luar perpustakaan. Dengan begitu, diharapkan agar
para pustakawan mahir dalam penggunaan teknologi informasi sehingga mereka
dapat membantu pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang diperlukan.
Fasilitas khusus diberikan ke perpustakaan pusat ITB pada gerbang server cache.lib.itb.ac.id
dengan keunggulan kecepatan akses dibandingkan dengan
akses di Fakultas/Jurusana di ITB
·
Keamanan
Teknologi komunikasi dan informasi juga dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perpustakaan, dari tangan-tangan jahil dengan fasilitas semacam gate keeper, security gate, CCTV dan lain sebagainya.
Teknologi komunikasi dan informasi juga dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perpustakaan, dari tangan-tangan jahil dengan fasilitas semacam gate keeper, security gate, CCTV dan lain sebagainya.
·
Pengadaan
Bagian Pengadaan juga sangat terbantu dengan adanya teknologi informasi ini. Selain dapat menggunakan ICT untuk melakukan penelusuran koleksi-koleksi perpustakaan yang dibutuhkan, bagian ini juga dapat memanfaatkan ICT untuk menampung berbagai ide dan usulan kebutuhan perpustakaan oleh pengguna. Kerjasama pengadaan juga lebih mudah dilakukan dengan adanya ICT ini.
Bagian Pengadaan juga sangat terbantu dengan adanya teknologi informasi ini. Selain dapat menggunakan ICT untuk melakukan penelusuran koleksi-koleksi perpustakaan yang dibutuhkan, bagian ini juga dapat memanfaatkan ICT untuk menampung berbagai ide dan usulan kebutuhan perpustakaan oleh pengguna. Kerjasama pengadaan juga lebih mudah dilakukan dengan adanya ICT ini.
·
Kesiapan
Pustakawan:
1.
Keahlian
diri
Menurut Ahmad (2001), pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pengguna. Kemampuan tentang komputer saja tidaklah cukup untuk mencapai sukses, karena itu dibutuhkan keahlian diri yang cukup yaitu:
Menurut Ahmad (2001), pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pengguna. Kemampuan tentang komputer saja tidaklah cukup untuk mencapai sukses, karena itu dibutuhkan keahlian diri yang cukup yaitu:
1.
Pemecahan masalah (kreatif, pencair konflik);
2. Etika
(diplomatis, jujur, profesional);
3. Terbuka
(fleksibel, berwawasan bisnis, berpikir positif);
4. Penutur dan pendengar yang baik
(ketrampilan berkomunikasi lisan
dan mendengarkan, penuh perhatian)
dan mendengarkan, penuh perhatian)
5.
Kepemimpinan (bertanggung jawab dan mempunyai motivasi);
6. Berminat belajar (haus akan pengetahuan dan
perkembangan).
2.
Berpikir
positif
Pustakawan
diharapkan menjadi orang yang berpengetahuan di atas rata-rata, juga sebagai
seseorang yang selalu berpikiran positif, sehingga jika dihadapkan pada
pekerjaan besar, harus mampu mengerjakan pekerjaan tersebut.
3.
Nilai
Tambah Pribadi
Pustakawan tidak cukup hanya pandai dalam mengatalog, mengindeks, mengadakan bahan pustaka dan pekerjaan rutin lainnya, tetapi di era global ini pustakawan harus mempunyai nilai tambah. Misalnya sebagai navigator yang ahli dalam pencarian informasi. Dengan nilai tambah yang dikembangkan melalui pengalaman dan pelatihan, pustakawan dapat memberikan pemanduan pencarian informasi di internet seakurat mungkin. Hal ini tentu akan memuaskan pengguna perpustakaan. Kepuasan pengguna itu sangat mahal bagi dirinya maupun bagi perpustakaan dimana ia bekerja.
Pustakawan tidak cukup hanya pandai dalam mengatalog, mengindeks, mengadakan bahan pustaka dan pekerjaan rutin lainnya, tetapi di era global ini pustakawan harus mempunyai nilai tambah. Misalnya sebagai navigator yang ahli dalam pencarian informasi. Dengan nilai tambah yang dikembangkan melalui pengalaman dan pelatihan, pustakawan dapat memberikan pemanduan pencarian informasi di internet seakurat mungkin. Hal ini tentu akan memuaskan pengguna perpustakaan. Kepuasan pengguna itu sangat mahal bagi dirinya maupun bagi perpustakaan dimana ia bekerja.
4. Berwawasan Kewirausahaan
Seyogyanya pustakawan dapat bertindak cepat
untuk menambah wawasan dalam bidang kewirausahaan, agar dalam perjalanan
sejarah keprofesiannya nanti dapat bertahan bahkan berkembang. Perpustakaan
bukan masanya lagi menjadi unit cost
di suatu institusi, melainkan dapat menjadi unit income. Paradigma lama bahwa Perpustakaan hanya pemberi jasa atau
amalan baik (charity) harus segera
ditinggalkan, karena berjasa atau beramal dapat digabungkan dengan berbisnis.
5. Kerja
Tim
Di dalam era global saat ini tidak ada satupun profesi
yang terkucil sendiri, akan tetapi perkembangan teknologi telah menawarkan
kesempatan
unik untuk bekerjasama
lintas disiplin dengan profesional lainnya. Misalnya, pakar komputer yang
bertanggung jawab pada pusat computer; pakar
teknologi yang bertanggung pada infrastruktur teknologi, jaringan dan aplikasi;
pakar informasi (pustakawan) yang mempunyai kemampuan dan pengalaman untuk
mengorganisasi pengetahuan dalam sistem dan struktur yang memfasilitasi
penggunaan sumber informasi dan pengetahuan, dapat tergabung dalam sebuah teamwork. Diharapkan dengan team work, berbagai tekanan yang
muncul di era industri informasi saat ini dapat dipecahkan.
V. Penutup
·
Implementasi
ICT dalam layanan perpustakaan dari waktu ke waktu akan terus berkembang sesuai
dengan tuntutan. Baik tuntutan selaku pengelola (pustakawan) maupun
sebagai pengguna (user) informasi.
·
ICT memberikan
kemudahan kepada pengguna untuk mengakses informasi lintas batas (transborder data-flow), yang tidak
dibatasi oleh batas negara, ruang dan
waktu.
·
ICT
memberikan kemudahan bagi pengelola informasi untuk mengolah, menyimpan dan
menyebarkannya secara cepat dan tepat.
·
ICT
menjadi sarana membangun perpustakaan berbasis teknologi yang kehadirannya
tidak bisa dihindari.
·
ICT
seperti juga teknologi lainnya merupakan alat bantu manusia untuk mencapai
tujuan, maka optimasi dan antisipasinya perlu disikapi secara terencana.
·
ICT
sebagai sarana terbentuknya jaringan teknologi informasi dan komunikasi di
perpustakaan, akan memberikan akses yang besar terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan.
Daftar
Pustaka
Ardoni, (2005), “Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya”, Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi”, Vol.1, No.2, USU Repository, halaman 32.
Arif, I. (2003), “Konsep dan Perencanaan dalam Automasi Perpustakaan”, Makalah Seminar dan
Workshop Sehari “ Membangun Jaringan Perpustakaan Digital dan Otomasi Perpustakaan menuju Masyarakat
Berbasis Pengetahuan “ UMM 4 Oktober 2003.
Lesmono, D. dan Samopa, F.
(2005), “Perancangan Dan Pembuatan Sistem Informasi Perpustakaan Berbasis Web Dengan
Menggunakan ASP dan SQL Server: Studi Kasus Ruang Baca FTIF”, Seminar Tugas akhir.
Fitrihana, Noor
(2007)
ICT dan Perubahan Sosial, http://batikyogya.wordpress.com/author/batikyogya/
Ma’in, Abdul M, (2008) ”Teknologi Informasi dalam Sitem Jaringan
Perpustakaan Perguran Tinggi”, IAIN Sunan Ampel Surabaya
Rochaeti, E., Rahayuningsih, Pontjorini dan Yanti,G.P., (2006), “Sistem Informasi Manajemen Pendidikan”, Jakarta: Bumi Aksara.
Surachman, Arif (2008) ”Layanan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi”.
Perpustakaan Universitas Gadjah Mada,
http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=60 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar